SERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang mencatat sebanyak 81 orang dengan HIV (ODHIV) berhasil ditemukan sepanjang 2026 melalui kegiatan pemeriksaan pada berbagai kelompok berisiko.
Dari jumlah tersebut, kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) menjadi penyumbang temuan terbanyak dengan 30 kasus.
Data tersebut merupakan hasil penemuan kasus dari kelompok yang menjalani pemeriksaan HIV dan bukan menggambarkan jumlah keseluruhan populasi LSL di Kota Serang.
Ketua Tim Penanggulangan Penyakit Menular Dinkes Kota Serang, Usep Hudori, mengatakan kelompok LSL masih mendominasi temuan ODHIV dibandingkan kelompok risiko lainnya sepanjang tahun ini.
“Yang laki-laki suka laki-laki ini ada 30. Ini temuan ODHIV berdasarkan kelompok risiko,” kata Usep saat dihubungi, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, secara keseluruhan terdapat 81 temuan ODHIV yang berasal dari berbagai kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pemeriksaan HIV.
Kelompok tersebut meliputi pasien tuberkulosis (TB), populasi umum, pasangan berisiko tinggi, ibu hamil, pasien infeksi menular seksual (IMS), waria, calon pengantin, hingga kelompok LSL.
Dari seluruh kategori tersebut, kelompok LSL menjadi kelompok dengan jumlah temuan ODHIV paling tinggi.
“Iya, lebih mendominasi. Yang temuan ODHIV ada 30,” ujarnya.
Meski demikian, Dinkes Kota Serang belum dapat merinci persebaran 30 temuan ODHIV pada kelompok LSL berdasarkan wilayah kecamatan.
Hal itu karena data kewilayahan masih disusun secara gabungan dengan seluruh kelompok risiko yang menjalani pemeriksaan HIV, sehingga belum dipisahkan berdasarkan kategori masing-masing.
“Kalau berdasarkan kecamatan itu semuanya nyampur. Ada WPS, waria, calon pengantin, ibu hamil dan lainnya. Jadi tidak hanya LSL,” jelas Usep.
Dinkes Kota Serang menegaskan bahwa pendataan tersebut bertujuan memperkuat upaya deteksi dini, pengobatan, serta pencegahan penularan HIV pada kelompok yang memiliki faktor risiko lebih tinggi.
Pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari program pengendalian HIV/AIDS agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan akses terhadap layanan kesehatan semakin luas.
